Lukisan: Mahal tapi Belum Berharga

Baru China dan India yang berhasil memengaruhi seni kontemporer dunia.

 Pameran lukisan mestinya menjadi semacam pesta budaya yang memperlihatkan karya-karya terbaik.

 Apa yang terjadi pada pada lelang lukisan di Jakarta seperti di Cempaka Fine Auction  dan Masterpiece Auction House, sungguh berbeda dengan karya perupa Indonesia terlelang gila-gilaan di luar negeri. Karya I Nyoman Masriadi The Man From Bantul (The Final Round) terjual sekitar 7,8 juta dolar Hongkong atau 10 miliar rupiah dalam lelang Sotheby’s di Hong Kong. Itu terjadi 6 Oktober, tiga pekan setelah Lehman Brothers Holdings Inc bangkrut, dan seluruh dunia divonis tertular resesi.

 Kanvas berdimensi 2,5 m x 4,35 meter itu laku lima kali lipat dari harga estimasi tertinggi 1,5 juta dolar Hongkong. Lukisan yang menggambarkan sosok tiga manusia berkulit hitam sedang beradu jotos di atas ring itu dibuat Masriadi pada 2000. Dua hari sebelum itu, Sorry Hero, Saya Lupa karya Masriadi yang lain terjual 4,8 juta dolar Hongkong atau setara 6 miliar rupiah. Bisa dibilang cat akrilik yang menggambarkan Batman dan Superman yang sedang duduk di kakus itu baru kering, karena baru dibuat Masriadi tahun lalu, 2008. 

 Masriadi tak sendirian, karya pelukis Agus Suwage juga menembus Rp 1 miliar. Di atas kanvas 65×78 sentimeter, Agus menggoreskan cat minyak dan membuat gambar seorang lelaki plontos yang kepalanya dikelilingi beberapa babi merah berukuran mini berjudul Oh Plastik, Oh Daging.

 Perolehan untuk karya Masriadi itu tercatat sebagai rekor tertinggi harga lukisan kontemporer di kawasan Asia Tenggara. Peristiwa itu disebut sebagai puncak dari booming harga karya perupa nasional. Masriadi memang pantas disebut sebagai motor booming harga yang berlangsung sejak awal 2007. Sebelumnya karyanya juga pernah terjual 2,5 miliar rupiah di luar negeri. Ini booming harga jilid ketiga, setelah yang terjadi pasca deregulasi perbankan di tahun 1980-an dan krisis moneter 1998.

 Tapi kali ini melambungnya harga lukisan perupa Indonesia lebih dipicu oleh faktor eksternal. Sumbernya dari Cina yang sedang gegap gempita kehidupan ekonominya. Pertumbuhan ekonomi negeri itu yang terus bergulir seperti bola salju memunculkan banyak orang kaya baru, yang tidak lagi malu-malu mengekspresikan gaya hidupnya, antara lain dengan memborong karya rupa yang menggiurkan harganya.

 Pada lelang-lelang internasional, harga karya Yue Minjun, Zhang Xiaogang, atau Liu Xiaodong bisa mencapai jutaan dolar AS. Padahal, beberapa tahun lampau lukisan itu paling-paling hanya dihargai ribuan dolar saja. “Dalam waktu yang singkat harga lukisan Cina naik berpuluh-puluh kali lipat, sudah tidak terjangkau lagi,” kata Benny Rahardjo, pemilik Masterpice Auction House.

 Ketika harga karya perupa Cina semakin mengawang, kolektor lukisan mencari alternatif sumber karya lain, terutama wilayah Asia Tenggara. Pilihan jatuh ke Indonesia, selain Vietnam dan Filipina. “Indonesia dipilih karena sejak dulu sudah punya pelukis-pelukis hebat. Di masa Soekarno sudah ada Basuki Abdullah, Lee Man Fong dan Affandi,” kata Benny.

 Bergesernya incaran kolektor ke Indonesia terang-terangan terlihat pada lelang Sotheby’s Hong Kong yang menggemparkan. Ketika lukisan Masriadi terjual 10 miliar rupiah, lukisan Mask Series karya Zen Fanzhi yang menjadi bintang lelang ternyata tidak laku. Sebelumnya karya ini diprediksi laku 12 juta dolar Hongkong. Dua karya perupa avantgarde Cina lainnya, Zhang Xiaogang, yang salah satunya diprediksi laku 2,3 juta dolar Hongkong juga tidak terjual.

 China dan India

Tak lalu melambungnya harga lukisan-lukisan dari perupa Indonesia diikuti sebuah gelombang baru. Setidaknya di tingkat wacana, menurut Heri Dono baru China dan India yang berhasil memengaruhi seni kontemporer dunia. Para kurator di dua negara tadi juga memberikan sumbangan pemikiran baru untuk seni rupa kontemporer di luar, umpamanya menjawab dominasi seni kontemporer Amerika-Eropa.

 Indonesia, menurut Heri mengalami masa emas ketika muncul gerakan seni rupa baru tahun 70-an dengan pelopornya antara lain Jim Supangkat, FX Harsono, Hardi, Nyoman Nuarta, dan sebagainya. Gerakan seni rupa tak harus berumur panjang, tetapi mampu membawa gelombang yang memberi wacana seni rupa selanjutnya. Contohnya, Gerakan Anti-Estetik Dadaisme di Eropa.

 Contoh lainnya, Cities on the Move oleh kurator Hou Hanru (China) dan Hans Ulrich-Obrist (Swiss) yang mempertanyakan eksistensi museum, utamanya di Eropa dan Amerika Serikat. Hanru dan Obrist mempersoalkan museum yang tidak memberikan peluang untuk memamerkan dan mengoleksi karya-karya seniman baru yang berkualitas dari belahan dunia lain. Meskipun hanya dua tahun, gerakan ini mendongkrak eksistensi seni kontemporer di Cina, India, Thailand, Korea, Jepang, dan seterusnya.

 Lelang seni di Indonesia, dalam andaian Dono, tak hanya pameran luar biasa dan membuka pasar saja tetapi juga meningkatkan “wacana pasar” sekaligus “pasar wacana”. Pameran menjadi semacam pesta budaya yang memperlihatkan karya-karya terbaik seperti Afandi, Raden Saleh, dan sebagainya. Masyarakat bisa mengerti tingginya harga lukisan dan estetika seninya. Dengan letak geografis yang dekat dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand, aktivitas pasar seni Indonesia diharapkan mampu menembus kawasan itu. Mengutip pesohor seni pop Amerika, Andi Warhol, Heri  yakin seniman bisa terkenal setiap kelebatan lima menit.

 Pasalnya, di Eropa dan Amerika terdapat aturan yang jelas mengenai pasar seni rupa, yang melibatkan jejaring kolektor, kurator, dan galeri. Di Indonesia, hal itu menjadi tidak jelas. “Untuk tegas mengatakan tidak pada permainan penggorengan saja belum ada. Mentalitas ewuh pekewuh masih melekat. Karena itu kita sulit menuju masa keemasan,” kata Ugo Untoro.

 Antara pasar dan capaian artistika suatu karya kerap tidak paralel. Pasar, apalagi bila telah dibumbui tujuan investasi, selalu memuat gelagat rekayasa. Pasar juga bisa menjadikan karya seni seperti pakaian, tak laku bila tak ikut tren. Apa boleh buat, permintaan dan penawaran telah menjadi hakim dan jaksa.

 Tapi Heri masih optimistis. Selain di Jawa dan Bali, beberapa tahu belakangan kata dia sudah ada apresiasi seniman-seniman lokal di pulau lain, khususnya Sumatera. Dukungan dari Grace Siregar dengan Galeri Tondi yang mengadakan workshop maupun pameran ke daerah menjadi marak. Perkembangan seni rupa kontemporer menyebar, dan mencipta subyek-subyek seniman baru. Sekaligus, pasar baru.

 Maraknya perkembangan seni rupa baru yang tak seragam, sulit didefinisikan alirannya, dan harga karya yang melangit dari seniman muda bukan ukuran masa keemasan dunia seni rupa Indonesia. Agus menilai jika melihat zaman keemasan seni rupa hanya dari tingginya harga, maka akan banyak pihak yang bermain.

 Ukuran utama yang jelas, menurut Agus adalah keabadian karya seni. Artinya, sampai kapan pun karya seni rupa tersebut akan selalu melekat dalam ingatan penikmatnya. Karya-karya pada masanya akan selalu dikenang hingga akhir hayat. Dan menurut Ugo karya-karya abadi, khususnya yang klasik yang lahir dari Afandi dkk, karena itu perlu mendapat perhatian dan apresiasi khusus. N jacques umam/alfred ginting/agus triyono

 

About these ads



    Berikan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: