Dicarai: Mahasiswa (Perekrutan CIA)

 

11 Januari 2009

Koran Jakarta

 

 Sudah sejak lama CIA merekrut agen dari kalangan kampus.

cia_logo Di zaman internet, kini, CIA bahkan lebih terang-terangan memasang iklan bursa lowongan kerja lengkap dengan cara melamar dan posisi yang ditawarkan. Sasarannya tetap sama: mahasiswa

 Namanya Ken Moskow, agen CIA spesialis konter teroris. Pria berusia 48 tahun itu akhirnya takluk oleh ketinggian Gunung Kilimanjaro, Tanzania, 19 September 2008, lebih dari tujuh tahun  setelah peristiwa serangan 11 September 2001. Dia tewas pada ketinggian 19 ribu kaki di atas permukaan laut, sekitar 20 yard dari puncak salju abadi Kilimanjaro—  setelah  terserang penyakit ketinggian high altitude pulmonary edema yang mematikan. Petualangan Moskow tamat, Joe Holley menuliskan obituari untuknya berjudul “Ex-CIA Agent Ken Moskow; Died Atop Mount Kilimanjaro” di Washington Post 6 Oktober 2008.

 Saat bergabung dengan CIA pada 1983-an, Moskow  baru lulus dari Universitas Harvard, sebagai sarjana sejarah. Dia memang menyukai petualangan yang memacu kencang denyut nadi dan pilihannya bekerja menjadi agen CIA, juga karena alasan untuk memacu adrenalin, hidup dengan petualangan itu. Ketika kali pertama ditugaskan di Spanyol, Moskow bahkan ikut pada acara tradisi tahunan di Pamplona; dikejar banteng. Di Madrid dia gemar berkeliling dengan sedan Mustang convertible berwarna merah. Dia juga pernah ditempatkan di Nicosia, Siprus untuk penugasan di Mesir, Israel dan Lebanon dan melewati hari-hari berbahaya di tiga negara Timur Tengah itu.

 Setelah peristiwa 11 September, Moskow yang baru bergabung kembali dengan CIA setelah mengajukan pensiun pada 1990, menduduki posisi senior di Pusat Konter Teroris. Tugasnya memastikan senjata-senjata nuklir dari bekas republik Soviet tetap jauh dari jangkauan kelompok teroris. Sebelum pensiun penuh pada 2006, Moskow berdinas di Paris, Prancis, dan  mengoordinasikan upaya anti-terorisme CIA di daratan Eropa. Kepada saudaranya, Moskow pernah bercerita bahwa dia merupakan salah satu dari tak banyak orang yang dilatih dalam anti-terorisme. “Aku harus melakukan ini,” kata Moskow. Tapi  puncak Kilimanjaro dua tahun kemudian,  membunuh Moskow di depan rekan-rekannya sesama agen CIA yang juga ikut mendaki gunung tertinggi di Afrika itu. 

 Kematiannya seolah juga membuktikan bahwa Moskow adalah sedikit contoh dari agen CIA yang direkrut dari kalangan kampus dan berhasil menduduki jabatan cukup penting, dan bagaimana dia kemudian juga mencoba menggaet agen dari para mahasiswa itu. Bambang Harymurti, yang belajar di MPA JF Kennedy School of Government, Universitas Harvard antara 1990-1991 bercerita dia pernah berteman dengan Moskow. “Orangnya terbuka, senang bersosialisasi. Kalau kita ada acara-acara, barbeque misalnya, dia datang. Saya juga beberapa kali mengerjakan tugas bersama dia,” kata Bambang.

 Tapi Corporate Chief Editor majalah Tempo itu mengaku sudah curiga pada Moskow. “Saya melihat karirnya agak aneh. Dia sering sekali ke luar negeri, dalam waktu tidak sebentar. Kepada saya dia mengaku berbisnis.” Kecurigaan Bambang ternyata tepat. “Saya baru ngeh dia agen setelah dia meninggal dan baca obituari tentang dia lewat email. Di situ dia disebut sebagai analis untuk CIA,” kata Bambang.

 Sejak Frank Wisner

Kisah CIA menggaet agen dari kalangan kampus, sebetulnya bukan kisah baru. Sejak berdiri pada 1947, CIA sudah melakukannya. Misalnya saat Frank Wisner menjabat Direktur Koordinasi Kebijakan CIA, OPC, yang kemudian berubah menjadi bagian operasional CIA. Wisner kala itu mengirimkan 500-an veteran PD II untuk menjadi tenaga pengajar di kampus-kampus di seluruh Amerika. Mereka bertindak sebagai komite tentara nonofficial OPC yang bertugas menyaring mahasiswa potensial untuk bergabung menjadi agen CIA. Cara itu oleh Wisher dipandang efektif karena komite bisa melakukan pengamatan langsung terhadap potensi yang dimiliki oleh mahasiswa selama jam kuliah berlangsung.

340x Hampir 10 tahun sesudahnya, program Wisher diperluas dengan tujuan untuk merekrut mahasiswa asing yang sedang belajar di Amerika. Sejak itu CIA mulai aktif  melakukan perekrutan di kampus-kampus di banyak negara, antara lain antara lain melalui program beasiswa senilai hingga 15 ribu dolar AS per  tahun.

 “Hubungan baik” antara CIA dan kampus juga bisa diketahui dari memo Dr. Earl C. Bolton, Wakil Presiden Universitas California di Berkeley. Bolton pada 1968 diketahui, telah berkonsultasi secara rahasia mengenai salah satu program studi yang akan didanai oleh CIA di kampusnya. Dia dan CIA bersepakat membentuk sebuah program intelijen sebagai salah satu program resmi dan penting bagi mahasiswa. CIA juga setuju untuk memberikan dana pendidikan bagi mahasiswa yang terpilih dan mau bergabung menjadi bagian CIA selama satu tahun.

 Achmad Ramzy Tadjoedin, bekas ketua Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat, Permias periode 1968-1973 menuturkan pada masa dia bersekolah di Amerika, agen-agen CIA direkrut secara tertutup dari kampus-kampus. Sasarannya adalah mahasiswa yang memiliki tingkat kecerdasan dan ketangkasan yang tinggi dan sebaliknya tidak bersedia merekrut agen yang tidak mempunyai catatan prestasi yang baik. Dan CIA mendapatkan catatan prestasi para mahasiswa itu dari informasi yang diberikan oleh para petinggi kampus. “Berdasarkan data dan pertimbangan yang dilakukan pihak CIA itulah akhirnya mahasiswa itu direkrut menjadi agen CIA. Pihak kampus dan mahasiswa pun dia tidak mengetahui siapa saja mahasiswa yang di rekrut,” kata Ramzy.

 Pada 1970-an, sebanyak 5.000 akademisi dari pelbagai kampus di Amerika, faktanya memang menawarkan bantuan untuk melakukan seleksi dan memilih sekitar 200-300 agen baru CIA dari sekitar 250 ribu  mahasiswa asing di Amerika. Sebagian besar dari akademisi itu kemudian mendapatkan imbalan dari CIA. Tapi perekrutan agen secara tertutup dari kalangan kampus, belakangan diubah oleh CIA; Memasuki era 80-an, perekrutan dilakukan secara terbuka, melalui lowongan iklan kerja yang didesain menarik dan ditempelkan di papan-papan pengumuman.

 “CIA, seperti halnya perusahaan-perusahaan yang biasa, mulai melangkah melalui brosur-brosur yang didesain untuk menarik calon peminat,” kata David Wise dalam tulisannya di majalah The New York Times, terbitan Juni 1986. Wise, pengarang sejumlah buku nonfiksi yang berkisar di sekitar masalah intelijen itu, kemudian menambahkan, “Sekali lagi, CIA menempatkan dirinya tepat di pusat kontroversi.”

 Menurut Bambang, publikasi perekrutan agen CIA terutama dilakukan menjelang wisuda dan biasanya hanya di kampus undergraduate (Strata 1). “Kalau saya di postgraduate, tidak pernah melihat publikasi mereka,” kata Bambang.

 18 Ribu Dolar

Di zaman internet, kini, CIA bahkan lebih terang-terangan memasang iklan bursa lowongan kerja lengkap dengan cara melamar dan posisi yang ditawarkan. Sasarannya tetap; mahasiswa. Di situs resminya, www.cia.gov CIA lengkap dengan simbolnya yang terkenal itu, kepala burung elang dengan perisai berbintang pecah– paling sedikit menawarkan lima posisi besar yang bisa dimasuki para pelamar; analis, klandestin, bahasa, ilmuwan dan pelayanan pendukung.

 Perekrutan juga dilakukan di gerai pameran di kampus. Contohnya sebuah iklan lowongan kerja yang pernah digelar pada 2005 di sebuah kampus di Amerika  yang bertajuk “Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pakar Senjata”. Dalam pameran itu,  sebuah tim yang terdiri dari dua orang berdiri di stan kecil dengan tanda pengenal yang hanya bertuliskan nama depan. Iming-imingnya gaji tahunan yang besar, pilihan paket keuntungan yang terdiri dari asuransi kesehatan, jiwa dan gigi. Tak lupa juga ditawarkan bantuan pendidikan sebesar 18 ribu dolar AS per semester, biaya kerja, dan buku juga  biaya rumah serta transportasi.

 Cheryl Herring, koordinator layanan kerja CIA menjelaskan,  perubahan pola perekrutan agen CIA dari semula tertutup menjadi terbuka, mungkin terjadi akibat banyaknya masalah akibat pola rekrut yang salah. Munculnya sentimen negatif dari kalangan mahasiswa terhadap pola perekrutan agen CIA juga menjadi salah satu penyebab diubahnya sistem rekrutmen oleh CIA.

 Salah satunya adalah demo penentangan yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa dari Universitas Wisconsin  yang menggelar aksi unjuk rasa di depan para perekrut agen CIA. Protes itu terjadi akibat keterlibatan agen CIA dalam menentukan kebijakan luar negeri Amerika yang mereka nilai, tak jarang merugikan bangsa dan negara lain. Menurut mereka, proses perekrutan yang salah mengakibatkan kesalahan kebijakan luar negeri yang di ambil oleh pemerintah Amerika.

 Pada awal musim kemarau, April 1985, protes juga pernah dilakukan oleh para mahasiswa Universitas di Colorado, Boulder. Mereka meneriakkan yel-yel yang memojokkan CIA; Pembunuh dan pemerkosa! Penyiksa dan penumpas! Aksi-aksi itu diprakarsai oleh kelompok yang menamakan dirinya CIA, yaitu Community in Action. Mereka mencela dukungan CIA (yang dinas rahasia) terhadap kelompok pemberontak kontra di Nikaragua, Amerika Latin.

 Dalam perubahan cara perekrutan para agennya di kampus, CIA belakangan juga mencantumkan kalimat-kalimat yang menggoda, yang mengingatkan orang pada cerita-cerita di film James Bond. Para mahasiswa itu misalnya, dirayu akan mendapatkan identitas terselubung sehingga tetap tersamar dalam kehidupan sehari-hari. Mereka akan menjadi kelompok elite dalam dunia yang sangat khusus. Moskow, yang menyenangi petualangan dan mati di puncak Kilimanjaro itu adalah salah satu mahasiswa yang terpikat dengan rayuan CIA. “Dia sangat bagus pada pekerjaannya… dan mudah-mudahan menyelamatkan banyak hidup,” kata seorang agen CIA. N rusdi mathari/alfred ginting/agus triyono

 

About these ads

  1. esaifoto

    salam dari bandung
    artikel anda good juga, kalau di buka lamaran kerja jadi agen CIA di negeri ini pasti banyak yang antri … kalau di indonesia dimana perwakilannyaa ???

    http://esaifoto.wordpress.com




Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: