Mencari Makna Liyan

Bisnis Indonesia, Selasa, 16/10/2007

I require a You, becoming I, I say You (Aku butuh Engkau, sambil menjadi Aku, Aku bersabda Engkau)-Martin Buber, filsuf Yahudi

Berbeda di jazirah Arab, fenomena mudik di Indonesia sangat otentik menjadi milik umat muslim di sini. Jika di Timur Tengah sana perayaan yang paling meriah kala bertemu dengan Iduladha atau Hari Raya Kurban, maka di Indonesia sebaliknya, perayaan Idulfitri merupakan momen paling meriah selama hari raya besar umat muslim sepanjang tahun Hijriyah.

Untuk memperingati Idulfitri itu, mudik merupakan salah satu peristiwa yang sangat fenomenal. Tiap tahun, setiap orang rela berduyun-duyun bahkan berdesakan untuk pulang ke kampung halaman. Orang di perantauan, konon, tidak akan pernah merasa afdal jika tidak menggunakan kesempatan untuk mudik, minimal setahun sekali.

Betapa pun banyak masalah terjadi atau memutar biaya sosial-ekonomi yang lumayan tinggi, mudik tetap saja menjadi pilihan sadar untuk dilakukan. Rasanya, tiap tahun tak pernah berkurang orang untuk mudik. Ini menandakan bahwa mudik lebih dari sekadar rutinitas.

Mudik sebagai salah satu ‘ritual’ tentu saja identik dengan momentum hari raya besar. Sebagai ritual yang terus mengalami pengulangan tiap tahun, mudik menjadi moment of truth yang dirasakan bagi setiap orang sebagai suatu kewajiban konvensional, meskipun tanpa harus mengartikannya sebagai kewajiban paling asasi di dalam beragama.

Sebagaimana tradisi Thanksgiving di Amerika atau tradisi ‘mudik’ lainnya di berbagai ritual keagamaan, mudik di Indonesia lebih bermakna ‘sakral’ yang amat bermakna.

Kembali ke asal

Kenapa orang harus mudik? Dorongan apa yang lebih subtil yang bisa menjelaskan peristiwa ini? Atau, apa makna spiritual di balik peristiwa mudik?

Setiap manusia mempunyai kecenderungan yang sangat alami untuk kembali ke yang asal. Dalam bahasa agama, hal itu dinamakan dengan fitrah. Fitrah merupakan asal-muasal setiap manusia berada. Ia, manusia, ada di dalam asal yang amat suci sifatnya.

Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan yang fitrah, artinya dalam kondisi yang amat suci dan otentik. Karenanya fitrahnya inilah, atau secara ilmiah kita namakan dengan the nature of God, manusia ingin terus kembali pada struktur dasarnya yang paling inti dan sublim, yakni ke sumber asal tadi.

Falsafah Jawa menyebutnya dengan sangkan paraning dumadhi, asal muasal semua kejadian. Bagaimanapun manusia hidup hingga dewasa dengan segala perantauan dan pengalaman yang telah dilaluinya, manusia selalu gandrung dengan mudik, kampung halaman tempat ia lahir dan dibesarkan bersama keluarganya.

Betapa pun ia telah menetap di sebuah wilayah yang lebih enak dan sejahtera, misalnya, perasaan untuk pulang kampung mesti ada. Dengan kembali ke yang asal, setiap manusia akan mengalami pengalaman yang amat eksistensial terkait dengan jati dirinya dalam samudera kemanusiaan.

Lebih dari sekadar tujuan untuk kenduri bersama dengan sanak-sau-dara, sebagai pengalaman eksistensial mudik merupakan penemuan kembali kesadaran ketuhanan yang mengasah kepekaan spiritualitas. Setelah sebulan melakukan puasa atau jeda dari berbagai larangan-larangan hawa nafsu, di hari Idulfitri orang menemukan kemenangan mendalam yang ditandai dengan pengakuan akan kemahabesaran Tuhan.

Hal ini juga peristiwa yang sebetulnya amat otentik dalam diri manusia, yakni kembali yang Asal, kembali ke (kesadaran) ketuhanan atau mudik spiritualitas. Kecenderungan untuk menemui fitrah ketuhanan menjadi momentum paling agung dalam setiap diri manusia, karena di situlah simpul keimanan tercerap secara hakiki.

Di kala itulah, kita juga menemukan rasa kemanusiaan kita kembali. Setelah merayakan kemenangan dengan nikmat spiritualitas, lantas mudik memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk saling memaafkan, bersilaturahmi, dan berbagi sedekah, serta berbagi kebahagiaan bersama.

Siapa pun merasa bahagia, yang kaya dan yang miskin saling berbagi, dan tidak ada jarak sosial yang cukup melebar dalam momentum ini. Rasanya, setiap manusia kembali disadarkan pada martabat dan derajat yang sama di hadapan Tuhan, dan hanya takwa sebagai cerap spiritualitas yang mampu membedakannya. Setiap manusia disadarkan pada kesucian asal selayaknya bayi yang baru lahir dengan merdeka dan sama di hadapan yang lain.

Kesempatan berkumpul bersama ini yang menjadi temali erat antara ketuhanan dan kemanusiaan. Bahkan ia menjadi pangkal kebahagiaan yang tertinggi dengan bersatu pada kemanusiaan untuk saling berbagi. Dan memang, menurut sebuah penelitian di Amerika, kebahagiaan tertinggi dirasakan orang bukan karena uang, materi, jabatan, atau perangkat duniawi lainnya.

Akan tetapi, berdasarkan riset tersebut, setiap orang merasa bahagia kala bertemu dengan keluarganya dan saling berbagi; ‘kembali ke yang asal’. Bahkan, kalaupun hal itu dilakukan dengan mengeluarkan biaya dan tenaga yang ekstra. Ini membuktikan bahwa mudik merupakan fitrah yang amat manusiawi.

Ego-liyan

Kerinduan eksistensial kemanusiaan yang tertinggi dengan bertemunya simpul-simpul kebersamaan menjadi tinanda yang kita temui dalam peristiwa mudik. Ada momentum untuk memaknai kembali kedirian kita, yakni ego.

Sang aku, alias ego, tidak mungkin bermakna kala ia dihadapkan secara kontras dengan kehadiran the other atau liyan. Ego bahkan dianggap tidak eksis jika tidak memiliki kepekaan untuk menyapa ‘liyan’.

Kesediaan untuk meraih ke-liyan-an ini yang menyebabkan arti kemanusiaan menjadi lebih imparsial dan utuh. Manusia menjadi amat bermakna saat dirinya menjadi bagian yang lain dalam hidup ini.

Pengalaman ke-liyan-an itulah yang kita temui dalam silaturahmi, menjalin kembali tali ikatan persaudaraan yang sempat terputus. Setiap diri sadar akan alpa dan kekurangan, bahkan mempunyai niat dan perilaku yang bersedia memaafkan sebelum dimaafkan, kembali saling menyapa, dan kembali saling berbagi untuk bahagia.

Pada momentum inilah setiap diri kita diajarkan untuk toleran dan mengasah hospitality yang sekaligus menyapa yang lain juga menghargai keberbedaan yang lain. Dengan demikian, mudik amat mengukuhkan keeratan manusia untuk bersedia saling membutuhkan, siapa pun dia.

About these ads



    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: